sejarah singkat wushu indonesia
wushu, mungkin masih sangat asing di
telinga kita masyarakat awam tapi.. begitu disebut kungfu tentunya kita sudah
sangat familiar. olahraga asal tiongkok yang di populerkan oleh bruce lee dan
jet li. berikut sejarah singkat perkembangan wushu di indonesia Sumber: wikipedia.com
Di Indonesia, Wushu kini juga mendapat perhatian yang istimewa dari masyarakat, wushu yang dulu hanya dimainkan oleh orang-orang tua, dan itupun hanya
golongan tertentu kini telah memasyarakat. Tidak ada data resmi yang mencatat
sejak kapan wushu mulai masuk ke Indonesia, tetapi sejak puluhan tahun silam
telah dimainkan oleh banyak orang dari berbagai kota besar maupun kecil di Indonesia seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang dan masih banyak lagi daerah lain, tetapi wushu yang berstandar
internasional baru dikenal dan dipopulerkan di Indonesia pada akhir Oktober
1992 yang diprakarsai oleh tokoh olahraga IGK Manila yang kemudian menjadi Ketua Umum PBWI yang pertama. Manila
berhasil membawa wushu Indonesia ke forum Internasional.
Banyak cerita menarik yang mengawali
berdirinya wushu berstandar internasional di Indonesia. Sebagai pendobrak tentu
saja Manila harus menghadapi berbagai tantangan di tengah ketidakmengertian
tentang seluk beluk olahraga ini. Kisah
berdirinya wushu Indonesia dimulai
ketika kontingen Malaysia, Filipina, dan Singapura begitu seenaknya menyabet medali
emas di arena SEA Games 1991 Singapura, Melihat kenyatan itu , Ketua
umum KONI Pusat ketika itu, Surono merasa iri dan
melihat bahwa cabang wushu memiliki prospek yang sangat cerah di Indonesia. Mengapa Indonesia tidak mampu berbuat
seperti Negara-negara tesebut? Sebab di Indonesia ketika itu tidak ada badan resmi
anggota KONI yang menangani atau mengurusi masalah
Wushu, Bahkan Indonesia belum
mengenal Wushu ketika itu.
Begitu SEA Games usai, sesuai dengan wewenangnya
maka Ketua Umum KONI Pusat Surono meminta agar didirikan
wushu yang benar di Indonesia, yakni wushu yang
memenuhi standar Internasional dan IGK Manila ditugaskan untuk itu. Secara
perlahan tetapi pasti duet Manila dan Mediteransjah mengulurkan tangan ke
daerah-daerah, mengajak semua pecinta wushu di Indonesia agar bahu-membahu membentuk
organsasi wushu yang benar dengan mengikuti ketentuan International. Ibarat pepatah pucuk dicinta ulam
pun tiba, ajakan itu mendapat sambutan hangat dari berbagai daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan terutama Sumatera Utara, dengan tangan terbuka menerima
ajakan itu. Maka terbentuklah apa yang dinamakan Pengurus Besar
Wushu Indonesia (PBWI) dan tanggal 10 November 1992 ditetapkan
sebagai hari lahirnya PBWI tersebut.
Manila bertindak selaku Ketua Umum dan
Mediteransjah selaku Sekretaris Jenderal dan mencatat aneka peristiwa baik yang
manis maupun yang pahit, kenangan manis di antaranya adalah keberhasilan atlet wushu
asal Medan, Jainab yang meraih juara kedua alias
peraih medali perak di
Kejuaraan Dunia 1995 di Baltimore, Amerika Serikat. Tentu saja itu merupakan
prestasi yang luar biasa, karena ketika itu wushu berstandar internasional baru
berkiprah 3 tahun di bumi Indonesia. Sejak saat itu perbendaharaan
prestasi olahraga di Indonesia forum dunia bertambah
menyusul cabang olahraga lainnya yang berumur jauh lebih tua seperti bulu tangkis, panahan, bridge dan lain-lain Pantaslah kalau ada
orang yang bertanya-tanya ketika itu, apakah benar Jainab memang hebat.
Keberhasilan Jainab merebut medali
perunggu di Asian Games Bangkok 1998
juga membuktikan bahwa potensi atlet asal Medan itu
memang luar biasa, Mengapa hanya perunggu? Itu cukup membanggakan. Sebab juara
dunia wushu hampir seluruhnya berasal dari negeri China dan
tentu saja mereka juga berusaha membabat semua medali emas Asian Games. Tak pelak lagi bahwa itu semua
karena kesuksesan atau keberhasilan pembinaan. Orang yang punya peran paling
besar di balik semua itu adalah Supandi Kusuma. Ketua Umum Pengurus Daerah
Wushu Sumatera Utara yang
sehari-hari melatih Jainab dengan tangannya sendiri.
Menjelang SEA Games XXI/2001,
Pengda Daerah Wushu Sumatera Utara diberi
kepercayaan menjadi pelaksana pusat latihan (training center) dan tentu saja
Supandi Kusuma yang juga Ketua Pengurus Daerah menjadi kordinator pelatih
sekaligus penanggung jawab latihan. Sejarah mencatat aneka peristiwa perjalanan
panjang wushu berstandar internasional di Indonesia. Wushu di Indonesia tetap
tegar, berdiri tegak seiring dengan tekad semua pihak yang terkait dan tentu
saja orang-orang yang tetap setia menangani olahraga ini.
Komentar
Posting Komentar